BALIKPAPAN, Seputarkata.com – Rendahnya partisipasi pemilih pada Pilgub 2018, yang hanya mencapai 61 persen, menjadi perhatian serius Ketua DPRD Kalimantan Timur, Hasanuddin Mas’ud.
Dengan Pilkada 2024 yang semakin dekat, Hasanuddin merancang berbagai strategi terpadu untuk memastikan lebih banyak warga menggunakan hak pilih mereka.
Ia menargetkan partisipasi setidaknya mencapai hingga 80 persen, yang menurutnya krusial dalam memperkuat kualitas demokrasi di Kalimantan Timur.
Dalam rapat koordinasi Forkopimda di Hotel Novotel Balikpapan, Hasanuddin memaparkan berbagai cara yang dapat dilakukan untuk mencapai target tersebut.
Baginya, sosialisasi dan pendidikan politik adalah langkah awal yang penting. Menurutnya, banyak pemilih, terutama generasi muda, yang belum memahami nilai dari hak suara mereka.
“Pendidikan politik di sekolah-sekolah dan pemahaman tentang hak serta kewajiban pemilih sangat penting,” ungkapnya, Rabu 13 November 2024.
Selain pendidikan politik, akses informasi juga dianggapnya sebagai kunci untuk meningkatkan partisipasi.
Hasanuddin menyarankan agar informasi tentang proses pemilu, status pemilih, hingga profil calon dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat, bahkan hingga ke desa-desa terpencil.
Salah satu idenya adalah menyediakan akses internet gratis di titik-titik strategis untuk memastikan seluruh warga terhubung dengan informasi yang akurat.
“Informasi tentang calon dan program-program mereka harus mudah didapat oleh masyarakat,” jelas Hasanuddin.
Tidak hanya mengandalkan media konvensional, ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, dan influencer.
Menurutnya, mereka bisa menjadi agen perubahan yang mengajak masyarakat untuk berpartisipasi aktif.
“Tokoh agama dan adat memiliki pengaruh besar dalam menggerakkan partisipasi masyarakat,” tuturnya.
Dengan begitu, ia berharap informasi bisa lebih cepat menyebar melalui media sosial dan jaringan informal yang dimiliki para tokoh tersebut.
Kampanye anti-golput juga menjadi salah satu strategi yang disoroti Hasanuddin. Menurutnya, fenomena golput kerap kali terjadi akibat ketidakpedulian terhadap dampak kebijakan yang akan dibuat oleh pemimpin terpilih.
“Mereka yang golput tidak peduli dengan harga BBM, listrik, dan lainnya yang mempengaruhi kehidupan mereka,” ungkapnya.
Bagi Hasanuddin, bukan hanya tentang pemenuhan target, tapi juga tentang menciptakan kepercayaan publik pada sistem pemilu.
“Kita harus memastikan masyarakat percaya bahwa suara mereka akan dihargai dan digunakan dengan baik,” tegasnya.
Dengan melibatkan semua pihak dan menerapkan strategi yang telah dirancang, Hasanuddin optimis bahwa partisipasi pemilih di Pilkada 2024 dapat meningkat signifikan.
Di akhir paparannya, Hasanuddin mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mendukung upaya bersama ini, agar Pilkada 2024 tidak hanya menjadi momen pemilu biasa, tetapi juga bukti bahwa suara rakyat adalah kekuatan dalam menentukan masa depan Kalimantan Timur. (*/jan)



