BALIKPAPAN, Seputarkata.com — Upaya pencegahan stunting tidak hanya dilakukan ketika seorang ibu tengah hamil, tetapi harus dimulai jauh lebih awal, bahkan sejak masa remaja putri.
Hal inilah yang menjadi salah satu fokus UPTD Puskesmas Klandasan Ilir dalam menekan kasus stunting di wilayah kerjanya.
Kepala UPTD Puskesmas Klandasan Ilir, dr. Rusna Azizah Aziz, menegaskan bahwa remaja merupakan kelompok strategis dalam menentukan kualitas kesehatan generasi mendatang.
Menurut dr. Rusna, salah satu masalah kesehatan yang sering luput dari perhatian adalah anemia pada remaja putri.
Kondisi ini, apabila tidak ditangani sejak dini, dapat berdampak pada kesehatan kehamilan di masa depan dan meningkatkan risiko melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah, yang merupakan salah satu faktor pemicu stunting.
“Pencegahan stunting itu tidak bisa hanya dilakukan saat ibu hamil. Kita mulai dari remaja putri dengan memastikan mereka memiliki status gizi yang baik dan tidak mengalami anemia,” jelasnya, Sabtu 15 November 2025.
Untuk itu, Puskesmas Klandasan Ilir menggencarkan program pemberian tablet tambah darah (TTD) bagi remaja putri yang sudah mengalami menstruasi.
Program ini dilaksanakan secara rutin di sekolah-sekolah. Bahkan sudah ada regulasinya melalui Dinas Pendidikan. Siswi meminum tablet tambah darah secara massal sesuai regulasi yang telah ditetapkan pemerintah.
“Pemberian tablet tambah darah ini sudah punya landasan regulasi. Setiap Jumat, remaja putri wajib mengonsumsi tablet tambah darah. Program ini gratis dan sangat membantu dalam mencegah anemia,” tambah dr. Rusna.
Selain itu, edukasi gizi seimbang juga diberikan sejak siswa masih berada di tingkat sekolah dasar. Melalui program dokter kecil, anak-anak dibekali pemahaman mengenai pentingnya makanan bergizi, pola hidup sehat, serta kebiasaan baik yang harus diterapkan setiap hari.
“Sosialisasi gizi seimbang sebenarnya sudah kita mulai sejak SD. Anak-anak yang tergabung dalam dokter kecil harus paham betul apa itu gizi seimbang dan bisa menyampaikan kembali ke teman-temannya,” ujar dr. Rusna.
Puskesmas Klandasan Ilir menilai pendekatan berjenjang ini sangat efektif karena membangun pemahaman sejak dini dan memastikan remaja putri sudah siap memasuki fase calon ibu yang sehat di masa depan.
Dengan edukasi yang tepat, pemberian TTD yang konsisten, dan dukungan lintas sektor, pencegahan stunting dapat dilakukan secara lebih komprehensif.
Melalui strategi ini, dr. Rusna berharap angka kasus stunting di wilayahnya dapat terus ditekan.
“Program pemerintah ini sangat baik. Kami ingin memastikan seluruh remaja putri mendapatkan manfaatnya sehingga ke depannya mereka dapat menjadi calon ibu yang sehat dan melahirkan generasi yang berkualitas,” pungkasnya. (*/ADV/jan)














