BALIKPAPAN, Seputarkata.com – Operasi pencarian dan penyelamatan berakhir duka, setelah tim SAR gabungan menemukan seluruh korban kecelakaan helikopter Airbus H130 PK-CFX di lereng Bukit Puntak, Kecamatan Nanga Taman, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat, Jumat 17 April 2026.
Tidak ada korban selamat dalam insiden tersebut.
Helikopter yang mengangkut enam penumpang dan dua awak itu ditemukan dalam kondisi hancur di area perbukitan curam.
Tim penyelamat harus menembus medan terjal sebelum akhirnya mencapai titik jatuh pada Kamis malam.
Kepala Basarnas, Mohammad Syafii, menjelaskan kondisi korban saat ditemukan cukup mengenaskan.
“Sebagian besar korban berada di dalam badan helikopter dalam kondisi terjepit. Satu korban lainnya ditemukan di luar, tersangkut di pohon tidak jauh dari lokasi utama,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Ia menambahkan, indikasi kuat benturan keras terlihat dari jejak sapuan baling-baling yang membentang hingga sekitar 500 meter di lereng bukit dengan kemiringan mencapai 65 derajat.
Temuan ini memperlihatkan helikopter sempat kehilangan kendali sebelum akhirnya menghantam permukaan.
Proses evakuasi berlangsung dramatis dan memakan waktu berjam-jam.
Seluruh korban baru berhasil dikeluarkan dari lokasi sekitar pukul 22.03 WIB, kemudian dibawa ke titik aman sebelum diteruskan ke posko evakuasi.
Pada Jumat pagi, seluruh jenazah dipindahkan ke fasilitas militer di wilayah Sanggau menggunakan ambulans.
Selanjutnya, tim menggunakan helikopter Super Puma untuk membawa korban menuju Bandara Supadio Pontianak.
“Setelah tiba di Pontianak, seluruh korban langsung dibawa ke RS Bhayangkara untuk proses identifikasi lebih lanjut,” tambah Syafii.
Diketahui, helikopter tersebut sebelumnya lepas landas dari area perkebunan di Kecamatan Menukung, Kabupaten Melawi, pada Kamis 16 April 2026 pagi.
Namun, hanya dalam hitungan menit setelah mengudara, pesawat hilang kontak.
Basarnas kemudian menerima sinyal darurat dari perangkat Emergency Locator Transmitter (ELT) melalui sistem satelit internasional, yang menjadi petunjuk awal lokasi jatuhnya helikopter.
Peristiwa ini kembali menjadi pengingat akan tingginya risiko penerbangan di wilayah dengan kontur alam ekstrem, sekaligus menyoroti pentingnya sistem keselamatan dan respons cepat dalam menghadapi kondisi darurat di medan terpencil. (*/jan)













