BALIKPAPAN, Seputarkata.com – Keluhan warga terkait banjir yang terus berulang di kawasan Perumahan BDS 2 kembali mencuat. Sejumlah perwakilan masyarakat mendatangi DPRD Kota Balikpapan untuk meminta kepastian penyelesaian persoalan tersebut.
Dalam rapat bersama Komisi III, Senin 27 Juli 2026, warga mendesak agar pengembang segera merealisasikan pembangunan kolam retensi sesuai fungsi awal sebagai pengendali limpasan air.
Pertemuan tersebut belum menghasilkan keputusan yang diharapkan karena pihak pengembang tidak hadir memenuhi undangan DPRD. Kondisi itu disayangkan Komisi III karena pembahasan tidak dapat dilakukan secara menyeluruh.
Anggota Komisi III DPRD Kota Balikpapan, Laisa Hamisah, mengatakan absennya pengembang menghambat upaya mencari solusi atas persoalan yang sudah lama dikeluhkan masyarakat.
“Kami ingin mendengar penjelasan langsung dari pihak developer, tetapi mereka tidak hadir. Padahal persoalan ini menyangkut kepentingan banyak warga yang setiap musim hujan terdampak banjir,” ujar Laisa.
Menurutnya, lahan yang telah ditetapkan sebagai kolam retensi tidak boleh dialihkan untuk kepentingan lain. Fasilitas tersebut memiliki peran penting dalam menampung debit air hujan agar tidak meluap ke kawasan permukiman.
Laisa menilai kondisi kolam yang ada saat ini belum memenuhi fungsi sebagai bozem. Akibatnya, setiap hujan dengan intensitas tinggi turun, air melimpas ke sejumlah lingkungan warga, terutama di RT 23 dan RT 24.
Ia mengungkapkan DPRD sebelumnya telah memberi kesempatan kepada pengembang untuk melakukan pembenahan, termasuk pengerukan dan penataan kolam retensi. Namun hingga kini, progres pekerjaan dinilai belum terlihat signifikan.
Karena itu, Komisi III meminta Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperkim) Kota Balikpapan mengambil langkah tegas apabila kewajiban pengembang terus diabaikan. Salah satu opsi yang didorong adalah penghentian sementara aktivitas pembangunan sampai fasilitas pengendali banjir tersebut selesai dibangun sesuai ketentuan.
“Jangan sampai pembangunan terus berjalan sementara persoalan banjir belum diselesaikan. Keselamatan dan kenyamanan warga harus menjadi prioritas,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua RT 24 Kelurahan Sungai Nangka, Rojali, mengatakan banjir telah menjadi persoalan rutin yang dialami warga selama beberapa tahun terakhir. Menurutnya, setiap kali hujan turun, genangan tidak hanya menutup akses jalan, tetapi juga masuk ke rumah-rumah warga.
Ia menyebut sedikitnya lima wilayah terdampak, yakni RT 21, RT 23, RT 24, RT 32, dan RT 42. Di kawasan BDS 1 terdapat sekitar delapan rumah yang kerap terendam, sedangkan di RT 42 sedikitnya lima rumah hampir selalu kebanjiran saat hujan deras.
Rojali menilai fasilitas yang selama ini disebut sebagai bozem belum memenuhi standar kolam retensi karena tidak mampu mengendalikan debit air. Bahkan, warga sempat mendengar adanya rencana perubahan fungsi lahan yang seharusnya dipertahankan sebagai kawasan penampungan air.
“Kami berharap pemerintah bersama DPRD mengawal persoalan ini hingga tuntas. Yang dibutuhkan warga bukan janji, tetapi kolam retensi yang benar-benar berfungsi sehingga banjir tidak lagi menjadi ancaman setiap kali hujan turun,” kata Rojali. (*/ADV/DPRD Balikpapan/jan)














