BALIKPAPAN, Seputarkata.com – Upaya menjaga kestabilan harga pangan sekaligus menekan laju inflasi daerah terus diperkuat.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan menggandeng pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk mempertemukan produsen dan distributor pangan lokal dengan mitra SPPG–MBG di wilayah Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Paser.
Langkah kolaboratif ini dinilai strategis seiring rencana bertambahnya jumlah SPPG yang akan beroperasi sepanjang tahun 2026.
Ketersediaan pasokan pangan yang berkelanjutan menjadi kunci agar operasional SPPG-MBG tetap berjalan tanpa memicu lonjakan harga di pasar.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menegaskan bahwa sinergi lintas daerah ini diarahkan untuk memaksimalkan pemanfaatan produk pangan lokal.
“Business matching ini bukan sekadar mempertemukan penjual dan pembeli, tetapi mendorong agar kebutuhan MBG dipenuhi dari produk lokal. Dengan begitu, perputaran uang terjadi di daerah dan memberikan dampak ekonomi berkelanjutan,” ujar Robi, Selasa, 11 Februari 2026.
Fasilitasi penjajakan kerja sama dilakukan melalui rangkaian business matching yang digelar di Balikpapan, Kabupaten Paser, dan Kabupaten Penajam Paser Utara pada 4–5 serta 9–10 Februari 2026.
Dalam forum tersebut, TPID memaparkan peta ketersediaan pasokan pangan, baik dari hasil produksi petani, peternak, pembudidaya ikan, hingga distributor yang memasok dari luar daerah.
Di sisi lain, mitra SPPG-MBG juga menyampaikan kebutuhan komoditas secara berkala, mulai dari sayuran, buah-buahan, telur ayam ras, daging ayam dan sapi, hingga produk olahan seperti tahu dan tempe, menyesuaikan menu yang telah ditetapkan.
“Informasi kebutuhan ini penting agar produsen dan distributor bisa menyesuaikan volume, kontinuitas pasokan, serta harga sejak awal,” jelas Robi.
Untuk memperdalam potensi kerja sama, TPID Kota Balikpapan menyusun booklet profil produsen dan distributor pangan sebagai panduan bagi mitra SPPG.
Pendalaman lanjutan di Balikpapan yang dipimpin Kepala Bappedalitbang setempat berhasil mengidentifikasi delapan kesepakatan awal antara pelaku usaha pangan dan mitra SPPG-MBG.
Kesepakatan tersebut direncanakan difinalisasi dalam High Level Meeting TPID gabungan Balikpapan, Penajam Paser Utara, dan Paser pada 18 Februari 2026.
Sementara itu, Kabupaten Paser memprioritaskan kerja sama pasokan telur ayam ras, dan Penajam Paser Utara menitikberatkan pada suplai tahu dan tempe sebagai tahap awal.
“Melalui skema ini, kami berharap kebutuhan pangan MBG dapat terpenuhi secara stabil, harga tetap terkendali, dan ekonomi daerah bergerak bersama,” pungkas Robi Ariadi. (*/jan)














