BALIKPAPAN, Seputarkata.com –
Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) kembali mencatatkan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) pada November 2025.
Berdasarkan publikasi Badan Pusat Statistik (BPS), Balikpapan mengalami inflasi bulanan sebesar 0,60 persen (mtm), dengan akumulasi inflasi tahun berjalan mencapai 1,98 persen (ytd) dan inflasi tahunan sebesar 2,31 persen (yoy). Angka tersebut masih sejalan dengan target nasional 2025, yakni 2,5 ± 1 persen.
Menurut Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, tekanan inflasi di Balikpapan banyak dipengaruhi oleh dinamika harga komoditas musiman dan mobilitas masyarakat.
“Kenaikan tarif angkutan udara dan fluktuasi harga pangan sangat terasa pada periode ini. Kondisi cuaca serta permintaan yang mulai meningkat jelang akhir tahun turut memberi tekanan tambahan,” ujar Robi, Kamis 4 Desember 2025.
Kelompok transportasi tercatat menjadi penyumbang utama inflasi Balikpapan dengan andil 0,26 persen (mtm). Lonjakan harga tiket pesawat pada rute Balikpapan–Surabaya dan Balikpapan–Makassar terjadi seiring meningkatnya kunjungan kedinasan dan perjalanan bisnis.
Selain itu, emas perhiasan, kacang panjang, sigaret kretek mesin (SKM), serta tomat turut memengaruhi kenaikan harga. Cuaca dengan intensitas hujan tinggi membuat pasokan sayur-sayuran dari sentra Jawa dan Sulawesi berkurang sehingga memicu kenaikan harga.
Sementara itu, deflasi di Balikpapan disumbang kelompok perlengkapan rumah tangga dengan andil -0,01 persen (mtm). Komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain daging ayam ras, ikan layang, air kemasan, baju muslim wanita, dan beras.
“Pasokan ayam beku dari Jawa meningkat cukup signifikan, begitu pula produksi lokal. Ini membuat harga lebih stabil,” jelas Robi.
PPU Juga Mengalami Kenaikan Harga
Sama dengan Balikpapan, IHK Kabupaten PPU pada November 2025 juga mencatat inflasi sebesar 0,14 persen (mtm). Inflasi tahunan PPU berada pada level 2,45 persen (yoy), masih dalam rentang target nasional.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi terbesar. Komoditas tomat, kacang panjang, buncis, sawi hijau, dan emas perhiasan mengalami kenaikan harga akibat menurunnya produksi saat musim hujan.
“Hortikultura sangat sensitif terhadap cuaca. Ketika curah hujan meningkat, hasil panen otomatis turun,” terang Robi Ariadi.
Sebaliknya, komoditas penyumbang deflasi di PPU antara lain daging ayam ras, ikan tongkol, ikan layang, beras, serta kelapa. Harga beras kembali menurun berkat kelancaran suplai dari Jawa dan Sulawesi, sekaligus membaiknya stok distributor.
Risiko Ke Depan : Puncak Musim Hujan dan Lonjakan Permintaan Akhir Tahun
Bank Indonesia Balikpapan memproyeksikan beberapa risiko inflasi yang perlu diwaspadai menuju Desember. Puncak musim hujan, potensi banjir di sejumlah wilayah Kaltim, serta permintaan pangan yang naik di masa Natal dan Tahun Baru menjadi tantangan utama.
Survei Konsumen BI menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Balikpapan mencapai 123,8 pada November, naik dari 119,3 pada Oktober.
“Optimisme masyarakat tinggi, ditopang prospek pendapatan dan kegiatan usaha yang semakin baik menjelang awal tahun,” kata Robi.
Kenaikan keyakinan konsumen ini tercermin dari kuatnya transaksi digital, termasuk QRIS yang tumbuh 163,31 persen (yoy) di Balikpapan pada Oktober 2025.
TPID Kaltim Perkuat Sinergi Pengendalian Inflasi
Bank Indonesia bersama TPID Balikpapan, PPU, dan Paser terus memperkuat strategi pengendalian inflasi melalui pemantauan harga komoditas pokok, sidak pasar, kerja sama antar daerah, gelar pangan murah, penguatan kios penyeimbang, serta dorongan pemanfaatan lahan pekarangan.
BI juga mengoptimalkan program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP).
“Kami memastikan langkah-langkah stabilisasi dapat berjalan konsisten untuk menjaga inflasi tetap terkendali di kisaran target nasional,” tegas Robi. (*/jan)














