BALIKPAPAN, Seputarkata.com – Penanganan stunting menjadi salah satu fokus utama di Puskesmas Klandasan Ilir, sejalan dengan arahan pemerintah pusat dan kota untuk terus menekan angka kasus di seluruh Indonesia.
Kepala UPTD Puskesmas Klandasan Ilir, dr. Rusna Azizah Aziz, menegaskan bahwa upaya pencegahan dan penanganan stunting tidak bisa berjalan sendiri, melainkan memerlukan kerja sama yang kuat antara kader, lintas sektor, dan masyarakat.
Menurut dr. Rusna, peran kader Posyandu menjadi fondasi penting dalam pemantauan pertumbuhan anak.
Mereka adalah garda terdepan dalam pengukuran tinggi dan berat badan balita setiap bulan.
Untuk memastikan data yang dihasilkan akurat, Puskesmas Klandasan Ilir rutin melakukan refreshing atau pelatihan ulang kepada kader.
“Kalau kita lihat penimbangan sudah mulai kendur, langsung kita lakukan refreshing lagi. Ini penting agar pengukuran tetap tepat,” jelasnya, Sabtu 15 November 2025.
Selain penguatan kapasitas kader, puskesmas juga memperkuat kolaborasi lintas sektor melalui tim penanganan stunting yang ada di setiap kelurahan.
Tim ini terdiri dari kader Posyandu, kader PKK, perangkat kelurahan, hingga pendamping keluarga.
Dengan adanya jaringan ini, puskesmas bergantung pada laporan cepat dari kader untuk segera melakukan tindak lanjut di lapangan.
“Kami berharap pelaporannya cepat, datanya juga cepat masuk. Kalau cepat, kami bisa langsung turun menangani,” ujar dr. Rusna.
Intervensi diberikan sesuai kebutuhan anak, baik melalui edukasi gizi, pemberian makanan tambahan, maupun pemantauan kesehatan secara berkala.
Namun, tidak sedikit kasus yang memerlukan rujukan ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Di sinilah sering muncul tantangan besar terkait administrasi kependudukan dan keanggotaan BPJS.
Dr. Rusna menjelaskan bahwa sebagian kasus stunting yang ditemukan memiliki masalah data kependudukan, seperti kartu keluarga tidak jelas atau domisili yang tidak sesuai.
Kondisi ini menyulitkan proses rujukan, karena layanan BPJS membutuhkan kepastian data.
“Kadang kita sudah intervensi, ternyata harus dirujuk. BPJS siap bantu, tapi terkadang masalah di kependudukannya yang tidak jelas,” ungkapnya.
Meski menghadapi hambatan administratif, Puskesmas Klandasan Ilir tetap berkomitmen memberikan penanganan terbaik bagi setiap anak.
Kolaborasi cepat antara kader, puskesmas, dan lintas sektor tetap menjadi kunci utama.
Dengan penguatan data, kapasitas kader, serta pelaporan yang lebih responsif, puskesmas berharap proses penanganan stunting semakin efektif dan tepat sasaran.
Upaya ini menunjukkan bahwa menurunkan angka stunting bukan hanya soal intervensi gizi, tetapi juga tentang kerja sama, sistem yang kuat, dan ketepatan data.
Dengan langkah yang terpadu, dr. Rusna optimistis penurunan stunting di wilayah Klandasan Ilir dapat terus berlanjut secara konsisten. (*/ADV/jan)



