BALIKPAPAN, Seputarkata.com – Penanganan stunting pada anak memerlukan pendekatan yang terintegrasi, melibatkan berbagai pihak di tingkat masyarakat.
Nutrisionis Puskesmas Damai, Fransisca F. A. Sitorus, A.Md.Gz, menekankan pentingnya kolaborasi dengan pihak kelurahan, PKK, dan kader-kader posyandu untuk memastikan program pencegahan stunting berjalan efektif.
“Kalau ingin melakukan kunjungan rumah, kami bekerjasama dengan Kelurahan. Di sana ada Ibu PKK, dan Tim Pendamping Keluarga (TPK). Mereka yang lebih mengenal wilayah, sementara kami fokus pada konseling dan pemeriksaan kesehatan, termasuk bagi ibu hamil yang berisiko tinggi,” ujarnya. Kamis, 13 November 2025.
Dengan kolaborasi ini, setiap kunjungan rumah dapat mencakup aspek kesehatan, gizi, dan sanitasi. Misalnya, tenaga kesehatan lingkungan memantau kebersihan dan kondisi pekarangan didampingi pihak Kelurahan. Untuk memastikan standar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) terpenuhi.
Fransisca menambahkan, koordinasi antara tim sangat penting. “Kami sering saling mengatur jadwal. Jika TPK punya data atau program yang sedang dijalankan, kami bisa ikut serta. Begitu juga sebaliknya, agar setiap kunjungan rumah tepat sasaran dan tidak ada yang terlewat,” tuturnya.
Pendekatan kolaboratif ini juga memungkinkan pemanfaatan sumber daya lain, seperti program ketahanan pangan.
Contohnya, Puskesmas Damai bekerja sama dengan Dinas Perikanan untuk menyediakan bibit ikan lele kepada keluarga, beserta pakan dan pendampingannya.
Program ini tidak hanya membantu memenuhi gizi anak tetapi juga meningkatkan ketahanan pangan keluarga.
“Ini menunjukkan bahwa penanganan stunting bukan hanya tanggung jawab kesehatan saja, tapi melibatkan berbagai sektor, termasuk ketahanan pangan,” jelasnya.
Menurut Fransisca, keberhasilan program ini bergantung pada sinergi antara tenaga kesehatan, kader, dan pemerintah kelurahan.
Setiap pihak memiliki peran masing-masing, mulai dari pengawasan wilayah, konseling kesehatan, hingga penyediaan program pendukung.
Dengan koordinasi yang baik, upaya pencegahan stunting dapat lebih efektif dan menyentuh seluruh aspek kehidupan anak, termasuk gizi, sanitasi, dan lingkungan rumah.
Kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana intervensi stunting di Balikpapan dapat dilakukan secara holistik.
Tidak hanya menekankan pada penanganan kasus, tetapi juga pada pencegahan melalui edukasi keluarga, pemantauan lingkungan, dan dukungan sosial, sehingga anak dapat tumbuh sehat dan optimal. (*/ADV/jan)














