BALIKPAPAN, Seputarkata.com — Upaya pencegahan stunting di Balikpapan tidak hanya ditujukan pada anak, tetapi juga calon ibu.
Puskesmas Damai melalui nutrisionisnya, Fransisca F. A. Sitorus, A.Md.Gz, menekankan pentingnya edukasi bagi calon pengantin tentang gizi sebelum kehamilan.
“Kalau calon ibu sudah mengetahui lingkar lengan atasnya di bawah normal yaitu kurang dari 23,5 Cm, sebaiknya memperhatikan pola makan dan mempersiapkan tubuh untuk hamil. Status gizi harus normal sebelum hamil agar anak bisa tumbuh optimal,” jelas Fransisca, Kamis 13 November 2025.
Ia menambahkan, langkah ini lebih efektif dibandingkan memperbaiki gizi anak setelah lahir, karena stunting merupakan dampak jangka panjang dari kekurangan gizi.
Puskesmas Damai mendorong keluarga dan calon pengantin untuk memahami konsep seribu hari pertama kehidupan (HPK).
Periode ini mencakup sembilan bulan kehamilan dan dua tahun pertama kehidupan anak, yang menjadi masa kritis pertumbuhan fisik dan kognitif.
“Upaya terbaik adalah mempersiapkan gizi calon ibu sebelum hamil. Jika gizi sudah baik, risiko anak terindikasi stunting bisa diminimalkan. Ini jauh lebih mudah daripada harus melakukan terapi atau pengobatan setelah lahir,” terangnya.
Selain edukasi gizi, Puskesmas Damai juga memberikan panduan praktis untuk keluarga, seperti perencanaan menu bergizi, pemantauan kesehatan calon ibu, dan dukungan lingkungan rumah.
“Orang tua dan calon pengantin perlu menyadari bahwa pola makan seimbang, cukup protein, vitamin, dan mineral, sangat menentukan kesehatan anak nanti. Ini bukan sekadar makan banyak, tapi makan tepat dan bergizi,” ujar Fransisca.
Kegiatan edukasi ini dilakukan melalui penyuluhan di kelurahan, konseling langsung di Puskesmas, program kunjungan rumah, hingga edukasi bagi calon pengantin di KUA wilayah kerja Puskesmas Damai.
Keluarga diajak untuk memahami tanda kekurangan gizi, mengenali kebutuhan ibu hamil, dan mempraktikkan pola makan sehat sehari-hari.
Pendekatan ini membuat orang tua lebih sadar akan tanggung jawabnya dalam mendukung pertumbuhan anak sejak awal. Fransisca menekankan bahwa pencegahan stunting dimulai dari kesadaran keluarga.
“Jangan tunggu anak lahir dan baru menyesuaikan gizi. Persiapan sejak calon ibu sangat menentukan kualitas pertumbuhan anak. Dengan pemahaman ini, keluarga bisa lebih siap, dan anak bisa tumbuh sehat, cerdas, dan optimal,” ujarnya.
Program edukasi calon pengantin dan keluarga dari Puskesmas Damai menjadi contoh bagaimana pendekatan preventif dapat mencegah stunting.
Keluarga yang sadar gizi sejak dini memastikan anak memiliki fondasi kuat untuk masa depan yang sehat. (*/ADV/jan)














