BALIKPAPAN, Seputarkata.com – Setiap kali musim hujan tiba, warga di sepanjang Jalan MT Haryono dan Jalan Beller menahan napas. Rintik air yang turun tak hanya membawa kesejukan, tapi juga bayang-bayang genangan air yang melumpuhkan jalan utama dan aktivitas warga.
Namun, tahun ini ada secercah harapan baru. Pemerintah Kota Balikpapan mulai bergerak lebih cepat. Sebuah langkah nyata sedang berlangsung di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) Ampal, pengerukan Bendungan Pengendali (Bendali) Ampal Hulu.
Pengerjaan yang dilakukan secara swakelola ini tidak berdiri sendiri. Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Balikpapan menggandeng personel TNI dari Kodim 0905/Balikpapan, membentuk kolaborasi sipil-militer demi mempercepat proses pengerjaan dan menaklukkan medan berat.
“Ini bukan proyek biasa. Ini tentang meminimalkan risiko banjir yang selama ini menghantui warga,” ujar Jen Supriyanto, Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase DPU Balikpapan, Jumat 9 Mei 2025.

Ia menjelaskan, pengerukan dilakukan karena belum cukupnya anggaran dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV untuk pembangunan fisik secara penuh.
Lahan seluas 10 hektare telah dipersiapkan, dengan 9,4 hektare di antaranya sudah berhasil dibebaskan. Dana senilai Rp43,5 miliar telah dikucurkan secara bertahap sejak tahun 2023.
Sisanya masih dalam proses, sebagian bahkan harus melalui jalur konsinyasi di pengadilan karena persoalan kepemilikan.
Peta lokasi tersebar di dua kelurahan: Gunung Samarinda dan Gunung Samarinda Baru. Di sinilah Pemkot menaruh harapan besar bahwa bendali akan menjadi jawaban jangka panjang atas masalah banjir yang selalu kembali, tahun demi tahun.
Strategi pengendalian banjir yang dirancang Pemkot Balikpapan mencakup tiga pendekatan besar, pelebaran drainase, pembangunan bendali, dan penambahan rumah pompa. Namun di antara semua, bendali dinilai sebagai pilihan paling realistis.
“Pelebaran drainase butuh dana hingga Rp1,6 triliun. Terlalu besar untuk dikerjakan sekarang. Tapi bendali bisa dikejar lebih dulu, apalagi lokasinya di hulu dan tak padat permukiman,” jelas Jen.
Lebih dari sekadar proyek fisik, pengerjaan ini menyimpan harapan banyak pihak. Harapan bahwa musim hujan tak lagi identik dengan bencana. Harapan bahwa anak-anak bisa pergi ke sekolah tanpa melewati banjir setinggi lutut.
Harapan bahwa Balikpapan bisa berdiri tegak sebagai kota yang belajar dari alam dan bersahabat dengan lingkungannya.
Jika semuanya berjalan sesuai rencana, tahun depan akan menjadi awal yang baru, ketika Bendali Ampal Hulu berdiri bukan hanya sebagai penahan air, tapi juga sebagai simbol komitmen sebuah kota yang tidak mau lagi dikalahkan oleh genangan air. (*/ADV/Diskominfo Balikpapan/jan)



