BALIKPAPAN, Seputarkata.com – Tumpukan limbah kayu yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini berubah menjadi berbagai produk fungsional bernilai ekonomi melalui program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan PT Pertamina Patra Niaga Kilang Balikpapan.
Inisiatif ini dikembangkan lewat pembinaan terhadap Kelompok Kayu Bina Karya Baitul Ghofur (BKBG) di Kelurahan Prapatan sebagai bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).
Program tersebut diarahkan untuk memperkuat konsep ekonomi sirkular, dengan memanfaatkan sisa material kayu dari aktivitas operasional perusahaan agar memiliki nilai guna baru sekaligus membuka peluang usaha bagi masyarakat sekitar.
Area Manager Communication, Relations & CSR PT Pertamina Patra Niaga Kilang Balikpapan, Dodi Yapsenang, menjelaskan bahwa pembinaan kelompok BKBG menjadi salah satu strategi perusahaan dalam menghubungkan pengelolaan lingkungan dengan peningkatan kesejahteraan warga.
“Program ini merupakan bagian dari komitmen PT PPN Kilang Balikpapan dalam mendorong pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat,” ujar Dodi, Selasa 31 Maret 2026.
Kelompok yang mulai aktif sejak tahun 2025 itu kini dihuni 16 anggota yang secara rutin mengolah limbah kayu menjadi beragam produk seperti meja, kursi, penutup kolam, hingga alat permainan edukatif untuk anak-anak.
Dari kegiatan produksi yang masih terus berkembang, kelompok ini telah mencatat nilai ekonomi sekitar Rp25 juta.
Menurut Dodi, capaian tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan limbah berbasis komunitas memiliki prospek yang besar jika terus diperkuat dari sisi kualitas produk dan akses pasar.
“Kami berharap kelompok BKBG dapat terus meningkatkan kualitas produk serta memperluas pemasaran, sehingga dampak ekonominya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” tambahnya.
Hasil karya kelompok BKBG juga telah dimanfaatkan dalam kegiatan sosial perusahaan, terutama melalui program Taman Asuh Sayang Anak (Tamasya).
Sejumlah alat permainan edukatif hasil produksi warga disalurkan ke tiga daycare sebagai fasilitas penunjang aktivitas belajar dan bermain anak.
Ketua Kelompok BKBG, Rantau, mengatakan keberadaan program tersebut memberi manfaat langsung bagi anggota karena limbah yang sebelumnya terbuang kini menjadi sumber tambahan pendapatan.
“Dengan adanya kelompok BKBG ini, kami dan anggota bisa mendapatkan tambahan penghasilan dari hasil olahan limbah kayu. Kami juga merasa lebih produktif karena limbah yang sebelumnya tidak dimanfaatkan, sekarang bisa menjadi produk yang bernilai,” kata Rantau.
Pembinaan berkelanjutan diharapkan mampu menjadikan BKBG sebagai contoh pengelolaan limbah berbasis masyarakat yang produktif, sekaligus memperkuat ekonomi lokal dan mendukung lingkungan yang lebih berkelanjutan. (*/jan)













