BALIKPAPAN, Seputarkata.com – HIV atau Human Immunodeficiency Virus adalah kondisi serius yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan berpotensi berkembang menjadi AIDS jika tidak ditangani dengan tepat.
Menurut dr. Martinus Aggriawan, dokter internship Puskesmas Klandasan Ilir, virus ini memerlukan perhatian serius dalam upaya pengendalian penyebarannya dan dukungan bagi para penderitanya.
HIV dapat ditularkan melalui beberapa cara. Pertama, penggunaan jarum suntik yang tidak steril atau terkontaminasi.
Kedua, melalui hubungan seksual anal atau vagina tanpa kondom. Ketiga, transfusi darah dan transplantasi organ dari orang yang terinfeksi HIV juga menjadi jalur penularan.
Selain itu, virus ini dapat menular dari ibu yang terinfeksi ke bayinya selama kehamilan, persalinan, maupun proses menyusui.
Meski begitu, masyarakat seringkali salah kaprah mengenai cara penularan HIV, sehingga muncul stigma negatif terhadap orang dengan HIV (ODHIV).
dr. Irene Nerissa, dokter internship Puskesmas Damai, menekankan bahwa HIV tidak menular melalui aktivitas sehari-hari seperti berbagi peralatan makan, menggunakan kamar mandi bersama, berenang di kolam renang, gigitan nyamuk, bersentuhan, berciuman, bersalaman, berpelukan, atau tinggal serumah bersama ODHIV.
“Stop stigma negatif HIV. Jauhi penyakitnya, bukan orangnya,” tegas dr. Irene, Selasa 25 November 2025.
Ia menekankan pentingnya edukasi yang tepat agar masyarakat tidak mengucilkan ODHIV hanya karena ketidaktahuan.
Pengetahuan yang benar mengenai HIV tidak hanya melindungi diri dari risiko penularan, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan yang inklusif bagi ODHIV.
Dukungan sosial, pengobatan rutin, dan pemeriksaan berkala menjadi kunci agar penderita tetap sehat dan sistem imun tetap terjaga.
Upaya pencegahan, menurut dr. Martinus, dapat dilakukan dengan menjaga perilaku berisiko, seperti menggunakan kondom saat berhubungan seksual dan memastikan penggunaan jarum yang steril.
Sementara bagi ibu hamil, pemeriksaan HIV sejak dini penting untuk mencegah penularan ke bayi.
Dengan edukasi yang tepat, masyarakat diharapkan mampu membedakan fakta dari mitos, menghentikan diskriminasi, dan mendukung ODHIV untuk tetap menjalani hidup sehat dan produktif. (*/ADV/jan)














