BALIKPAPAN, Seputarkata.com —
Puskesmas Damai terus berinovasi dalam upaya promotif dan preventif bagi masyarakat dengan menghadirkan program akupresure sebagai terapi komplementer untuk mengatasi penyakit ringan.
Teknik ini dilakukan dengan menekan titik-titik tertentu pada tubuh, bertujuan membantu keluhan seperti batuk, pilek, mual, dan nyeri ringan.
Rifazul Aulia Rahman, Apoteker Penanggung Jawab sekaligus Koordinator Jejaring Puskesmas Damai, menjelaskan bahwa akupresure bisa diterapkan untuk berbagai usia, mulai dari anak-anak, dewasa, hingga lansia, termasuk ibu hamil dengan kriteria khusus.
“Untuk ibu hamil dan anak-anak, tekanan tidak boleh terlalu keras. Misalnya ibu hamil, titik di tangan dan kaki tidak boleh ditekan. Setiap titik ditekan sekitar 30 kali atau selama 30 detik,” jelas Rifazul, Minggu 16 November 2025.
Keamanan dan efektivitas menjadi fokus utama. Puskesmas Damai memastikan masyarakat memahami akupresure yang baik dan benar melalui pelatihan kader.
Materi akupresure dimasukkan ke dalam kegiatan pemberdayaan kader, dan dilakukan penyegaran rutin setiap tiga bulan bagi kader yang sudah terbentuk dalam program Asman TOGA.
Selain itu, buku panduan resmi dari Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan Kota menjadi pedoman praktis bagi pelatihan dan praktik di lapangan.
Rifazul menambahkan bahwa akupresure bersifat komplementer, artinya sebagai tambahan dan tidak menggantikan pengobatan medis yang diresepkan.
“Kalau pasien tidak bisa ke puskesmas karena jarak atau waktu, akupresure bisa dilakukan sementara, tapi besoknya tetap dilanjutkan ke fasilitas kesehatan,” katanya.
Program ini juga dirancang agar bisa dilakukan secara mandiri oleh masyarakat, asalkan sudah mengikuti pelatihan kader dan memahami panduan resmi.
Kader berperan sebagai penghubung yang mendampingi, mengajarkan teknik yang aman, serta memastikan praktiknya sesuai standar.
Pelatihan kader hingga kini aktif berjalan dan menjadi garda depan penyebaran pengetahuan akupresure di masyarakat.
Selain praktik, pencatatan menjadi bagian penting. Rifazul menjelaskan, setiap penggunaan akupresure dicatat untuk memastikan data terekam, serupa dengan rekam medis pasien di puskesmas.
Sistem pencatatan ini membantu memantau efektivitas terapi serta mendukung pengendalian penyakit tidak menular secara lebih sistematis.
Harapannya, masyarakat dapat memanfaatkan akupresure secara mandiri maupun untuk keluarga, sehingga pengetahuan dan keterampilan ini turut memperkuat upaya promotif dan preventif Puskesmas Damai.
“Dengan edukasi, pendampingan kader, dan pencatatan yang baik, akupresure bisa menjadi salah satu cara sederhana namun efektif menjaga kesehatan masyarakat,” tutup Rifazul. (*/ADV/jan)














