JAKARTA, Seputarkata.com – Eni resmi menetapkan keputusan investasi akhir atau Final Investment Decision (FID) untuk pengembangan proyek gas laut dalam Gendalo–Gandang dan Geng North–Gehem di lepas pantai Kalimantan Timur.
Langkah ini menandai percepatan pengembangan migas strategis nasional setelah persetujuan rencana pengembangan lapangan diberikan pada 2024.
Pengembangan dua klaster tersebut dilakukan dengan memanfaatkan fasilitas produksi yang sudah tersedia, termasuk unit Jangkrik serta optimalisasi kembali fasilitas liquefied natural gas di Bontang LNG Plant, sehingga efisiensi biaya dan percepatan produksi dapat dicapai.
Untuk proyek South Hub, pengembangan dilakukan melalui tujuh sumur produksi di kedalaman 1.000 hingga 1.800 meter yang terhubung ke fasilitas Jangkrik.
Sementara North Hub mencakup 16 sumur produksi pada kedalaman 1.700 hingga 2.000 meter dengan dukungan FPSO baru berkapasitas pemrosesan lebih dari 1 miliar kaki kubik gas per hari dan 90 ribu barel kondensat per hari.
Secara keseluruhan, cadangan dari dua proyek ini diperkirakan mencapai 10 triliun kaki kubik gas dan 550 juta barel kondensat.
Produksi awal ditargetkan berlangsung pada 2028, dengan puncak produksi pada 2029 sekitar 2 miliar kaki kubik gas per hari.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menegaskan bahwa keputusan investasi tersebut menjadi sinyal positif bagi iklim investasi energi nasional.
“Keputusan investasi ini menjadi langkah penting dalam mendukung peningkatan produksi gas nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia. SKK Migas bersama pemerintah akan terus mendorong percepatan pengembangan proyek-proyek strategis agar manfaatnya maksimal bagi negara dan masyarakat,” ujar Djoko.
Ia menambahkan, nilai investasi proyek ini mencapai lebih dari US$15 miliar dan saat ini proses pengadaan barang serta jasa telah berjalan, termasuk pembelian komponen utama berjangka panjang untuk mendukung konstruksi.
“Dengan investasi senilai lebih dari US$15 miliar, secara paralel Eni juga sedang menjalankan tender pengadaan barang dan jasa, serta telah membeli sejumlah long lead item yang dibutuhkan dalam pengembangan proyek,” lanjutnya.
Menurut Djoko, dampak ekonomi proyek ini juga sangat besar karena diperkirakan mampu menyerap ribuan tenaga kerja selama tahap konstruksi hingga operasional.
“Dengan nilai investasi sebesar itu, penyerapan tenaga kerja akan sangat besar, bisa mencapai ribuan orang,” katanya.
Gas hasil produksi nantinya akan dialirkan ke darat melalui jaringan pipa untuk memenuhi kebutuhan domestik dan mendukung ekspor LNG melalui fasilitas Bontang.
Sedangkan kondensat akan diproses di fasilitas lepas pantai sebelum dikirim menggunakan kapal tanker.
Selain memperkuat pasokan energi nasional, proyek ini juga akan menjadi bagian dari kerja sama bisnis antara Eni dan Petronas dalam pembentukan perusahaan energi baru yang ditargetkan memiliki produksi lebih dari 500 ribu barel setara minyak per hari pada 2029. (*/jan)














