BALIKPAPAN, Seputarkata.com –
Penyakit tidak menular (PTM) masih menjadi tantangan kesehatan yang terus meningkat, terutama pada usia produktif.
Kepala UPTD Puskesmas Klandasan Ilir, dr. Rusna Azizah Aziz, menegaskan bahwa upaya pencegahan harus dimulai lebih awal, khususnya pada kalangan remaja yang sedang berada dalam fase pembentukan kebiasaan.
Melalui berbagai kegiatan screening dan edukasi di sekolah, ia menemukan bahwa lingkungan sosial remaja memegang peranan sangat besar terhadap perilaku berisiko.
Dalam salah satu screening berhenti merokok yang pernah dilakukan, dr. Rusna melakukan analisis mendalam terkait faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku merokok pada remaja.
Ia meneliti tiga aspek penting, keluarga, lingkungan sekolah, dan teman sebaya. Hasilnya menunjukkan temuan yang mengejutkan namun realistis, pengaruh teman sebaya jauh lebih dominan dibandingkan faktor lainnya.
“Ternyata yang paling berpengaruh itu teman sebaya. Angkanya paling tinggi dari hasil analisis saya,” ungkapnya, Jumat 14 November 2025.
Temuan ini menjadi dasar penting dalam strategi pencegahan PTM. Dr. Rusna meyakini, jika pesan tentang bahaya merokok, pola makan tidak sehat, dan risiko PTM disampaikan oleh remaja kepada rekan sebayanya, dampaknya akan jauh lebih kuat.
“Ketika dipromosikan oleh mereka sendiri, pesannya lebih nyampe. Harapannya begitu,” jelasnya.
Ia pun mendorong adanya duta-duta remaja yang aktif mempromosikan gaya hidup sehat, terutama terkait bahaya rokok dan pentingnya gizi seimbang.
Meskipun demikian, Puskesmas Klandasan Ilir terus melakukan berbagai upaya preventif. Dr. Rusna menjelaskan bahwa puskesmas rutin melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah melalui program UKS yang memang menjadi kewajiban layanan kesehatan primer.
Edukasi mengenai kesehatan reproduksi, bahaya narkoba, gizi seimbang, hingga pencegahan PTM disampaikan kepada siswa secara rutin.
“Upaya kami sudah dilakukan. Sosialisasi selalu kami masukkan dalam program UKS,” ujarnya.
Namun, ia menyadari bahwa pendekatan yang dilakukan tenaga kesehatan seringkali tidak seefektif pesan yang datang dari teman sebaya.
Bahasa, gaya penyampaian, serta kedekatan emosional antar remaja menjadikan peran duta sebaya jauh lebih relevan.
Karena itu, dr. Rusna berharap ke depan akan ada kolaborasi lebih luas antara puskesmas, sekolah, dan komunitas anak muda untuk membentuk Duta Remaja Sehat yang dapat menjadi inspirasi dan panutan.
Dengan mendorong partisipasi aktif remaja, pesan hidup sehat dapat menjangkau lebih banyak anak muda dan menciptakan perubahan perilaku yang lebih kuat.
Langkah ini menjadi investasi penting untuk menekan kasus PTM sejak dini dan membangun generasi yang lebih sehat, cerdas, dan siap menghadapi masa depan. (*/ADV/jan)



