BALIKPAPAN, Seputarkata.com –
Tren penyakit tidak menular (PTM) yang semakin banyak dialami usia produktif menjadi perhatian serius Puskesmas Klandasan Ilir.
Kepala UPTD Puskesmas Klandasan Ilir, dr. Rusna Azizah Aziz, menjelaskan bahwa perubahan gaya hidup masyarakat saat ini menjadi faktor terbesar meningkatnya kasus tersebut, terutama di kelompok usia muda yang seharusnya berada pada masa paling aktif dan produktif.
Menurut dr. Rusna, pola hidup modern yang serba cepat dan instan membawa dampak besar terhadap kebiasaan makan.
Masyarakat kini cenderung memilih makanan siap saji yang mudah dipesan melalui layanan online.
“Sekarang semuanya serba mudah. Tinggal klik, makanan siap saji langsung datang. Padahal banyak dari makanan itu mengandung pengawet, garam tinggi, dan gula berlebih,” jelasnya, Jumat 14 November 2025.
Kebiasaan ini, bila berlangsung terus-menerus, dapat memicu berbagai gangguan kesehatan seperti hipertensi, diabetes, hingga penyakit jantung.
Selain pola makan, dr. Rusna menyoroti kebiasaan merokok yang masih banyak ditemukan pada usia remaja hingga dewasa muda.
Perilaku ini menjadi salah satu penyebab utama meningkatnya risiko PTM.
“Satu lagi yang tidak kalah berpengaruh adalah kebiasaan merokok,” ujarnya.
Rokok memiliki dampak jangka panjang yang serius dan kerap kali tidak disadari oleh anak muda karena efeknya tidak muncul secara instan.
Melihat kondisi tersebut, dr. Rusna memberikan pesan khusus kepada anak-anak dan remaja sebagai kelompok yang sangat menentukan masa depan kesehatan bangsa.
Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran dari kalangan muda sendiri.
“Untuk sasaran anak muda, sosialisasi pola hidup sehat itu sebaiknya berasal dari mereka sendiri. Kalau kami yang menyampaikan kadang kurang sampai pesannya. Lebih efektif kalau dari kelompok sebaya,” terangnya.
Ia juga menilai program Makanan Bergizi Seimbang (MBG) sangat baik untuk generasi muda, namun harus diiringi dengan perubahan kebiasaan makan mereka sehari-hari.
Edukasi gizi seimbang perlu dipahami, dipraktikkan, dan dikampanyekan oleh anak muda melalui komunitas, pertemanan, maupun kegiatan sekolah.
Konsep peer educator atau duta sebaya dinilai menjadi kunci penting. Anak muda yang menjadi contoh bagi teman-teman sebayanya akan lebih mudah didengar dan diikuti.
“Jadi semacam duta. Mereka bisa memberi contoh, mengajak, dan menyebarkan pesan hidup sehat dengan bahasa mereka sendiri,” ujar dr. Rusna.
Dengan peran aktif anak muda, diharapkan pola hidup sehat dapat menjadi tren baru yang lebih kuat dibandingkan kebiasaan-kebiasaan berisiko.
Upaya ini menjadi langkah penting dalam menekan kasus PTM sejak dini dan menciptakan generasi masa depan yang lebih sehat, tangguh, dan produktif. (*/ADV/jan)














