BALIKPAPAN, Seputarkata.com – Penantian kontingen Balikpapan untuk meraih medali emas dari cabang olahraga sepatu roda pada Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur VIII di Kabupaten Paser akhirnya berakhir.
Neema Maida Nareswary menjadi atlet yang mengantarkan Kota Minyak naik ke podium tertinggi melalui nomor Individual Time Trial (ITT) 200 meter putri, Jumat (6/11/2026).
Neema mencatatkan waktu 18,067 detik untuk menyelesaikan perlombaan di Lintasan Sepatu Roda Sungai Tuak, Paser. Catatan tersebut menempatkannya di urutan pertama, sekaligus memastikan medali emas pertama Balikpapan dari cabang olahraga tersebut.
Atlet Balikpapan itu berhasil mengungguli dua pesaing asal Kabupaten Paser. Syaglla Sahla Maharani harus puas dengan medali perak setelah membukukan waktu 18,158 detik.
Adapun medali perunggu menjadi milik Mayang Serunay Norsie dengan catatan 18,523 detik.
Kemenangan Neema menjadi pencapaian tersendiri bagi pembinaan sepatu roda Balikpapan.
Di tengah keterbatasan fasilitas latihan, atlet binaan Pengurus Cabang Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (Porserosi) tersebut mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya di hadapan para pesaing dari berbagai daerah.
Perjalanan kontingen sepatu roda Balikpapan di Porprov Kaltim VIII Paser 2026 ditutup dengan koleksi 18 medali. Rinciannya, satu emas, delapan perak, dan sembilan perunggu.
Emas yang diperoleh Neema menjadi penutup manis perjuangan atlet Balikpapan pada hari terakhir pertandingan.
Sementara itu, delapan medali perak dan sembilan perunggu memperlihatkan daya saing atlet Kota Minyak di tengah dominasi daerah lain.
Kabupaten Paser sebagai tuan rumah masih menjadi kekuatan utama dengan perolehan 21 medali emas. Samarinda berada di urutan berikutnya dengan tiga emas, sedangkan Kutai Kartanegara mengumpulkan dua emas. Balikpapan dan Kutai Timur masing-masing membawa pulang satu emas.
Ketua Porserosi Balikpapan Hasan bersama pelatih Ari Pramono menyambut positif hasil tersebut. Raihan emas di tengah keterbatasan sarana latihan dinilai menjadi bukti bahwa atlet Balikpapan memiliki potensi untuk bersaing di tingkat provinsi.
Fasilitas Latihan Masih Jadi Persoalan
Di balik pencapaian tersebut, persoalan ketersediaan fasilitas masih menjadi pekerjaan rumah bagi pembinaan sepatu roda Balikpapan.
Pelatih sepatu roda Balikpapan, Ari Pramono mengatakan, para atlet selama ini belum memiliki lintasan khusus untuk menjalani latihan rutin. Mereka harus menyesuaikan lokasi latihan dengan fasilitas yang tersedia, mulai dari area parkir Masjid Islamic Center Balikpapan hingga kawasan lapangan di sekitar Stadion Batakan.
Kondisi itu berbeda dengan Kabupaten Paser yang telah memiliki lintasan sepatu roda permanen selama kurang lebih dua tahun.
Menurut Ari, perbedaan karakter permukaan lintasan turut memengaruhi kesiapan atlet ketika menghadapi pertandingan.
Lintasan resmi yang lebih halus memungkinkan atlet meluncur dengan karakter kecepatan berbeda dibandingkan permukaan semen yang selama ini digunakan dalam latihan.
Permukaan semen membutuhkan tenaga lebih besar dan membuat roda sepatu lebih cepat mengalami keausan. Sementara itu, atlet Paser juga memiliki keuntungan dari fasilitas latihan yang lebih memadai. Bahkan, mereka disebut telah menjalani pemusatan latihan di luar daerah hingga Malaysia.
Meski menghadapi kondisi yang tidak seimbang, atlet Balikpapan tetap mampu memberikan perlawanan. Ari menilai seluruh anak asuhnya telah mengerahkan kemampuan terbaik sepanjang pertandingan.
“Anak-anak sudah berjuang maksimal. Dengan segala keterbatasan tempat latihan, mereka tetap mampu bersaing dengan atlet tuan rumah. Kami tentu sangat bersyukur akhirnya bisa meraih medali emas,” ujarnya.
Ia berharap capaian 18 medali tersebut tidak hanya menjadi catatan prestasi, tetapi juga menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pembinaan atlet sepatu roda di Balikpapan.
Porprov 2030 Jadi Peluang Bangun Kekuatan
Ari menilai, kepemilikan lintasan khusus menjadi salah satu kebutuhan mendasar jika Balikpapan ingin meningkatkan prestasi pada kompetisi mendatang.
Peluang Balikpapan menjadi tuan rumah Porprov Kaltim 2030 diharapkan dapat dimanfaatkan untuk membangun fasilitas sepatu roda yang representatif. Dengan demikian, atlet memiliki waktu cukup untuk beradaptasi dengan lintasan pertandingan sebelum kejuaraan berlangsung.
Menurut dia, keberadaan venue sendiri akan memberikan keleluasaan bagi pelatih dalam menyusun program latihan. Atlet juga dapat mengembangkan teknik, kecepatan, serta daya tahan melalui latihan yang lebih terukur.
“Kalau Balikpapan menjadi tuan rumah Porprov 2030 dan kita sudah memiliki venue sendiri sejak awal, kami optimistis cabor sepatu roda bisa menjadi yang terbaik,” ungkap Ari.
Ia juga melihat potensi besar dari atlet-atlet lokal yang saat ini memperkuat kontingen Balikpapan. Dengan pembinaan berkelanjutan dan dukungan fasilitas yang lebih baik, kemampuan mereka diyakini dapat berkembang dalam empat tahun mendatang.
“Apalagi melihat potensi atlet-atlet asli Balikpapan yang telah berjuang saat ini. Empat tahun ke depan mereka akan lebih maksimal,” imbuhnya.
Keberhasilan Neema meraih emas pun diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan olahraga untuk memberikan perhatian lebih terhadap kebutuhan fasilitas sepatu roda.
Apresiasi juga datang dari Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kota Balikpapan. Kepala Disparpora Balikpapan Ratih Kusuma menyampaikan penghargaan kepada atlet sepatu roda yang telah berjuang hingga berhasil mempersembahkan medali emas.
“Terima kasih kepada atlet-atlet sepatu roda yang sudah bekerja keras dan pantang menyerah hingga akhirnya bisa mendapatkan emas. Ini tentunya menjadi motivasi bagi atlet-atlet kita di cabang olahraga lain yang akan bertanding berikutnya di Porprov,” ujarnya.
Tambahan emas dari Neema diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri atlet Balikpapan yang masih berlaga pada cabang olahraga lainnya.
Porprov Kaltim VIII Paser 2026 dijadwalkan berlangsung pada 14–28 November 2026. Kontingen Balikpapan masih memiliki kesempatan untuk menambah pundi-pundi medali sekaligus memperbaiki posisi dalam persaingan olahraga tingkat provinsi. (*/jan)













