BALIKPAPAN, Seputarkata.com – Tekanan inflasi di Kota Balikpapan dan Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menunjukkan tren penurunan pada Januari 2026.
Kondisi ini dipengaruhi oleh normalisasi aktivitas ekonomi masyarakat setelah libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026, serta terjaganya pasokan sejumlah komoditas pangan.
Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan mencatat, Indeks Harga Konsumen (IHK) Kota Balikpapan mengalami deflasi sebesar 0,11 persen (month to month/mtm).
Sementara itu, Kabupaten PPU masih mencatat inflasi ringan sebesar 0,05 persen (mtm).
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, menjelaskan bahwa capaian tersebut menunjukkan stabilitas harga di awal tahun tetap terjaga.
“Melambatnya inflasi pada Januari 2026 terutama didorong oleh normalisasi permintaan masyarakat pasca HBKN Nataru, serta terjaganya pasokan sejumlah komoditas pangan strategis di wilayah Balikpapan dan PPU,” ujar Robi Ariadi dalam keterangan resminya, Rabu 4 Februari 2026.
Secara tahunan, inflasi Kota Balikpapan tercatat sebesar 3,26 persen (year on year/yoy), sementara Kabupaten PPU berada di level 2,75 persen (yoy).
Angka tersebut lebih rendah dibandingkan inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur maupun inflasi nasional, serta masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional tahun 2026 sebesar 2,5 persen ±1 persen.
Di Kota Balikpapan, deflasi terutama bersumber dari kelompok transportasi dengan andil -0,28 persen (mtm).
Penurunan tarif angkutan udara dan harga bensin menjadi faktor utama, seiring berakhirnya masa puncak perjalanan liburan.
“Turunnya tarif angkutan udara sejalan dengan kembali normalnya mobilitas masyarakat setelah libur panjang, sehingga permintaan tiket pesawat ikut menurun,” jelas Robi.
Selain itu, penurunan harga cabai rawit dan cabai merah turut menahan laju inflasi, seiring meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi yang mulai memasuki masa panen.
Namun demikian, tekanan inflasi di Balikpapan masih muncul dari kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya, terutama akibat kenaikan harga emas perhiasan dan daging ayam ras.
Sementara itu, inflasi di Kabupaten PPU didorong oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau, dengan komoditas seperti ikan tongkol dan tomat mengalami kenaikan harga akibat terbatasnya pasokan.
“Gangguan cuaca, termasuk gelombang laut yang tinggi dan intensitas hujan, masih menjadi tantangan utama dalam menjaga kelancaran distribusi komoditas pangan, khususnya perikanan dan hortikultura,” tambahnya.
Ke depan, Bank Indonesia Balikpapan mencermati potensi risiko inflasi yang berasal dari puncak musim hujan, ancaman banjir di wilayah sentra produksi, serta meningkatnya permintaan menjelang Ramadan dan Hari Raya Idulfitri 2026.
Meski demikian, optimisme masyarakat tetap terjaga, tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Balikpapan Januari 2026 yang berada di level 129,3.
“Kepercayaan konsumen yang tetap kuat menjadi modal penting dalam menjaga stabilitas ekonomi daerah ke depan,” pungkas Robi Ariadi.
Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, Bank Indonesia bersama pemerintah daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) akan terus memperkuat sinergi pengendalian harga.
Diantaranya melalui pemantauan pasar, operasi pasar, penguatan kerja sama antar daerah, serta optimalisasi program Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP). (*/jan)
